Reportase | KKN Undip Tim I 2024/2025 | Serafina Yupita Paskaly - Hubungan Internasional | Program Monodisiplin Mengabdi ke Desa: Mahasiswa KKN UNDIP Aplikasikan SDGs Melalui Pembuatan Cairan Serbaguna Eco-Enzyme Sebagai Solusi Ramah Lingkungan
Dempel, Kalibawang, Kab. Wonosobo (25/01/2025). Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutkan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi fokus penting dalam upaya pembangunan berkelanjutan untuk global maupun nasional. Menyadari hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim I Universitas Diponegoro (UNDIP) 2024/2025, Serafina Yupita Paskaly dari Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) 2021 mengadakan program kerja (proker) pemberdayaan masyarakat yang inovatif.
Dengan tajuk “Satu Cairan, Seribu Manfaat: Eco-Enzyme, Kunci Untuk Aksi Iklim!”, program ini ditujukan untuk Kelompok Wanita Tani di Dusun Kepirang, Desa Dempel, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Wonosobo. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (25/01) dengan tujuan memperkenalkan konsep SDGs melalui aksi nyata pengolahan sisa kulit buah dan sayuran yang masih segar menjadi cairan Eco-Enzyme serbaguna. Mahasiswa KKN ingin membuktikan bahwa SDGs tidak hanya sebagai konsep abstrak, tetapi bisa diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat di Desa Dempel.
Kegiatan ini sejalan dengan tujuan SDGs, khususnya Tujuan SDGs point 13 Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim). Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN memberikan penjelasan bahwa seluruh dunia darurat sampah. 60% terdiri atas sampah organik dan 40% terdiri atas sampah anorganik. Indonesia berada di peringkat ke-5 sebagai negara penghasil sampah terbesar di dunia yakni mencapai 65,2 juta ton (World Bank, 2020).
Melalui kegiatan pengolahan sampah organik menjadi Eco-Enzyme di Dusun Kepirang, Desa Dempel, menjadi salah satu upaya dampak signifikan dalam mendorong kesadaran lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim. Eco-Enzyme yang dihasilkan dari fermentasi sampah organik, air, dan gula, memiliki manfaat multifungsi sebagai penyubur tanaman, pembersih alami, dan bahan pengolahan makanan.
Ibu Hindun Istikomah, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT), mengungkapkan ketertarikannya pada program ini. “Sangat berterima kasih atas diadakannya praktik pembuatan Eco-Enzyme, kita bisa tahu dari limbah ternyata masih bisa dimanfaatkan,” ujarnya. Antusiasme peserta menunjukkan contoh nyata pencapaian SDGs dan diharapkan KWT Dusun Kepirang dapat menjadi contoh bagi komunitas lain dalam mengelola sampah organik dan mengurangi dampak perubahan iklim.
Serafina Yupita Paskaly, penginisiasi program, berharap program ini dapat menjadi langkah awal yang baik bagi masyarakat Desa Dempel untuk lebih memahami proses pembuatan Eco-Enzyme tidak hanya sekedar teori.